GARIS KEHIDUPAN
JANPATAR SIMAMORA
Malam sudah mulai larut. Suasana di sekitar rumah kost ku sudah sepi. Hiruk pikuk suasana kota Medan yang biasanya dipenuhi jejeran kendaraan di siang hari, ditambah bunyi klakson mobil, malam itu berubah menjadi sepi bagaikan kota mati. Maklum, mulai sore sampai malam, hujan datang mengguyur. Sesekali terdengar suara tukang sate yang sedang menjajakan dagangannya. Tanpa terasa, jarum jam diatas meja belajarku sudah menunjuk angka 11. Aku duduk termenung di keheningan malam, mataku menerawang ke langit-langit rumah.
Tiba-tiba HP yang kuletakkan di meja mengeluarkan nada getar yang cukup menghentakkan aku dari lamunanku. Aku meraih HP itu dan ternyata ada satu pesan masuk. Setelah kubuka, ternyata pesan singkat (SMS) itu berasal dari Nova, gadis yang sempat menggugah hatiku.
“Gimana kabarmu say…?”, begitulah pertanyaan terakhir yang kuterima dari Nova melalui SMS itu. Hampir setengah tahun lamanya Nova tidak pernah lagi memberi kabar. Dia hilang bagaikan ditelan bumi, sementara segala usaha dan upaya yang kulakukan untuk menemukannya kembali bagaikan terhalangi dinding yang teramat tebal.
Tak banyak yang bisa kuperbuat untuk menemukan nova, dan akhirnya aku hanya bisa diam, merenung dan pasrah dengan keadaan. Aku sungguh tak kuasa untuk memerima kenyataan itu pada saat itu. Segala rutinitas ku dalam kesehariannya menjadi terganggu. Bahkan kuliahku sempat mengalami kemandekan dalam satu bulan.
Oh iya, Nova adalah salah seorang Mahasiswi salah satu Akademi Keperawatan swasta di Medan. Dia telah banyak memberi garis dan warna dalam hidupku, hatiku semakin tegar saat itu berkat dorongan dan nasehat serta saran yang diberikannya padaku. Betapa tidak, ditengah kebimbanganku dalam menghadapi realita kehidupan saat itu, justru Nova datang dalam hidupku. Pada saat itu, seolah dia tau bahwa aku sedang menghadapi problema hidup. Ditengah kegelisahan dan kebingunganku dalam menghadapi kondisi nenekku saat itu, Nova datang dengan membawa sejuta bahagia buatku. Ditambah lagi dengan perhatiannya kepada nenekku yang begitu membuatku seolah kehilangan segala beban dalam benakku. Semenjak saat itulah, aku simpati melihatnya dan akhirnya kami sepakat untuk menjalin tali asmara.
Nenekku adalah satu-satunya orang yang paling kusayangi. Semenjak usia satu tahun, aku sudah menjadi anak piatu. Sepeninggal ibuku, ayahku menikah dengan perempuan lain. Sejak saat itulah, aku tinggal bersama nenekku dan sampai akhir hidupnya aku tetap dalam tanggungannya. Bahkan hingga awal perkuliahanku, nenekku menjadi satu-satunya orang yang memperjuangkan aku untuk mengecap pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Sementara aku sendiri sudah menganggap nenekku sebagai seorang ibu yang melahirkan aku. Bahkan tidak jarang aku memanggilnya dengan sebutan Ibu, padahal dia adalah ibu dari ibuku.
Nenekku sendiri masih sempat memberikan dukungannya kepadaku atas hubungan asmaraku dengan Nova. Ditambah dukungan dari orang yang paling kusayangi, hatiku semakin menggebu-gebu ibarat semangat seorang pembalap mobil yang lagi siaga menunggu pluit sang panitia. Tapi kini, semuanya seolah hanya sebuah angan-angan yang tidak pernah kesampaian. Hingga detik ini aku tak tahu lagi keberadaan Nova. Cintaku seolah layu sebelum berkembang. Aku sempat kehilangan arah dan tujuan hidup. Betapa tidak, dua orang yang sangat kusayangi tidak lagi bisa bersamaku, nenekku dan Nova. Allah telah mengambilnya. Aku sempat berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil, mengapa Tuhan begitu cepat mengambil mereka dari perjalanan hidupku. Apakah Tuhan tidak mau melihat aku bahagia?. Begitulah pikiran yang ada dalam benakku saat itu. Namun, berkat saran dan dorongan dari teman-teman terdekatku, akhirnya aku sadari bahwa mungkin Tuhan sedang mengujiku.
# # #
Aku bertemu dengan Nova di salah satu rumah sakit milik pemerintah di Medan sekitar 3 tahun yang lalu. Ketika itu, aku sedang menjaga nenekku yang sedang sakit komplikasi di rumah sakit tersebut. Maklum, usia nenekku pada saat itu telah mencapai angka 80 an tahun. Sehingga apa yang dikatakan oleh dokter yang memeriksa nenekku menjadi sangat kuyakini. Aku adalah satu-satunya orang yang peduli dengan kondisi nenek. Sebenarnya banyak keluarga yang tinggal di kota ini, namun entah karena kesibukan dalam mencari nafkah atau memang karena tidak peduli sama sekali, aku kurang tau persis.
Nenekku sendiri sudah lama ditinggalkan kakekku, sudah ada sekitar 6 tahun kakekku meninggal. Sejak saat itu, kondisi kesehatan nenekku memang menurun drastis, apalagi ditambah lagi dengan usia yang sudah cukup tua. Sementara, berkat dorongan sang nenek, sepeninggal kakekku aku diberangkatkan untuk menginjakkan kaki ke bangku peruliahan oleh nenekku.
Sebenarnya saat itu aku tidak tega meninggalkan nenekku di kampung seorang diri, namun demi masa depan akhirnya kuputuskan untuk berangkat dan terpaksa jauh dari kasih sayang nenek. Semenjak keberangkatanku ke kota, aku kurang tahu persis perkembangan kesehatan nenek. Maklum, aku baru bisa pulang hanya pada waktu liburan semesteran aja. Jadi aku hanya bisa ketemu dengan nenekku hanya sekali dalam setengah tahun.
Dengan berbekal biaya yang pas-pasan, aku mencoba mengikuti UMPTN (sekarang bernama SPMB) dengan harapan dapat mengecap pendidikan di perguruan tinggi negeri. Namun usahaku gagal dan setelah mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya kuputuskan untuk masuk salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup diakui di kota tersebut. Memang saat itu niat untuk kuliah sempat kuurungkan, mengingat biaya yang harus kutanggung di swasta teramat berat. Namun, mengingat sulitnya persaingan dunia kerja saat ini, maka kubulatkan tekadku untuk kuliah dengan harapan agar masa depanku nantinya bisa cerah.
Setelah satu semester perjalanan bangku kuliahku, tepatnya sekitar bulan Januari. Nenekku datang dari kampung dan langsung menuju rumah pamanku di Medan. Namun kedatangannya ke kota bukan karena ingin bertemu denganku, melainkan karena suatu penyakit yang sedang dideritanya. Ketika aku dikabari bahwa nenek datang, betapa hatiku riang saat itu dan setelah kami bertemu, rasa gembira yang menyelimuti hatiku tiba-tiba berubah menjadi sebuah kesedihan. Betapa tidak, kondisi nenekku saat itu sudah sangat memprihatinkan, badannya kurus, suaranya agak serak-serak basah.
Dengan kondisi yang demikian, akhirnya aku bersama dengan pamanku memutuskan untuk membawa sang nenek berobat ke rumah sakit umum. Setelah nenek berada dirumah sakit, pamanku menyuruhku untuk menjaga nenek selama di rumah sakit tersebut. Tawaran pamanku itupun kuterima, sebab aku juga mengerti dengan kondisi kehidupan pamanku yang hidup pas-pasan.
Hari pertama aku menginap di rumah sakit, berbagai persoalan telah terbayang di dalam hatiku. Entah karena apa, tiba-tiba terbayang dalam benakku bagaimana nasibku nanti seandainya nenekku dipanggil menghadap yang Kuasa.
“apakah kuliahku akan gantung sampai disini”, begitulah sekelumit pertanyaan dalam hatiku.
Ah, tapi sudahlah. Kalau memang sudah begitu suratan hidupku, mau dibilang apa. Aku hanya dapat pasrah dan berserah diri dengan kondisi yang sedang kuhadapi.
Pagi harinya sekitar jam 08.00 WIB, seorang wanita dengan mengenakan baju seragam warna putih datang memasuki ruangan nenekku menginap. Tanpa banyak tanya, wanita tersebut langsung memegang tangan nenekku dan setelah itu diambilnya sehelai kain dan air hangat. Dia mengusap seluruh tubuh nenekku dengan kain yang telah direndamnya dalam air hangat tadi. Setelah selesai, wanita tersebut kembali membaringkan nenekku seperti kondisi semula.
Setelah selesai, wanita tersebut menghampiriku dan berkata, “abang famili nenek ini ya?”. Dengan spontan aku langsung menjawab, “iya, aku cucunya”.
“ada apa yang sus….?”. aku balik bertanya.
“aku bukan suster bang, hanya mahasiswa yang sedang magang” jawabnya.
“oh, maaf. tadi saya kira suster yang sedang jaga disini”
Akhirnya, dia duduk mendekat disampingku dan menceritakan kondisi yang sedang dialami sang nenek. Dia berkata bahwa menurut cerita dokter yang menangani penyakit nenek, nenekku sedang mengalami komplikasi dan sangat tipis harapan untuk bisa sembuh, sebab usianya yang sudah tua. Mendengar penjelasan itu, jantungku berdebar kencang seolah tanpa kendali. Tanpa kusadari, keluar sebutir air dari kedua kelopak mataku. Aku menjadi teringat dengan angan-anganku tadi, bagaimana seandainya nenekku harus pergi meninggalkan aku.
Melihat kondisiku saat itu, wanita itu lalu mencoba untuk memberikan harapan padaku.
“sudahlah bang, jangan terlalu sedih. Yang penting abang berdoa aja sama Tuhan” begitulah ungkapan yang keluar dari mulut wanita itu.
“oh, iya namanya siapa ya” (tanyaku, sambil melempar senyum).
“namaku nova, bang”. (sambil menatap nenekku yang sedang terbaring di ranjang).
Sebenarnya sangat ingin mendampingi nenekku terus-menerus di rumah sakit sampai dia sembuh. Namun mengingat bangku perkuliahanku masih tahapa persiapan (tingkat pertama), sehingga aku tidak berani terlalu banyak absen. Aku takut bila sampai di cap sebagai seorang mahasiswa pemalas.
Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kubulatkan tekadku untuk terus masuk kuliah. Siang hari aku masuk kuliah dan malamnya aku tidur menenami nenek di rumah sakit. Sementara kalau siang hari, nenek kutitip sama Nova yang kebetulan dinas siang. Begitulah hari-hari kulalui, selama nenekku berada di rumah sakit.
Hampir setiap pagi aku bertemu dengan nova. Dan inilah awal dari kedekatan kami berdua. Memang harus kuakui bahwa semenjak pertama kali aku bertemu dengan nova, entah mengapa seperti ada magnet yang menarik hatiku untuk selalu merindukannya. Perhatiannya kepada nenekku membuat aku amat simpati dengannya, ditambah lagi dengan raut wajahnya yang lumayan cantik.
Begitulah setiap harinya aku selalu bergegas cepat pulang dari kampus dengan harapan dapat bertemu dan ngobrol dengan Nova. Biasanya, setelah aku datang, Nova selalu menyusul langkahku masuk kamar tempat nenekku di rawat. Kami sering ngobrol dan cerita masalah kehidupan dan pengalaman di bangku kuliah. Tanpa kusadari, ternyata perasaan cinta dan kasih sayangku pada Nova semakin hari semakin menggila. Setiap aku berada disampingnya, segala beban yang ada dalam hatiku seolah hilang begitu saja.
Sebenarnya, kehadiran Nova dalam hidupku benar-benar membuatku cukup bersemangat untuk merawat nenek. Ditengah ketidakpedulian keluargaku pada nenek, justru Nova datang membantu mengurangi beban penderitaan itu. Dari situlah aku sadar bahwa kehadiran Nova benar-benar menjadi penyangga dan memberi kekuatan dalam hatiku yang sempat rapuh.
Hubungan kami terus berlanjut, nenek pun menyetujui hubungan itu. Saat itu aku sangat bahagia, karena nenekku sudah mampu memberikan semangat baru untukku dan aku berharap agar nenek lekas sembuh dan kami bisa pulang kerumah.
Namun ternyata harapan itu tidak berbuah kenyataan. Allah memanggil nenek dan Nova sekaligus. Tepatnya dua minggu setelah nenek masuk ke rumah sakit, akhirnya Tuhan memanggil nenek kepangkuanNya. Aku hanya bisa menangis dan berteriak semampuku, seolah tidak ada lagi harapanku untuk hidup. Betapa tidak, orang yang paling kusayangi dan kuanggap sebagai seorang ibu yang melahirkan aku ternyata harus berpisah denganku.
Kebetulan saat itu adalah hari minggu, jadi Nova tidak masuk dinas. Hampir tidak ada orang yang bisa menenangkan aku di rumah sakit itu. Sementara dengan bantuan seorang kawan yang juga sedang menjaga saudaranya yang sakit, akhirnya pihak keluragakupun berdatangan ke rumah sakit dan mengurus segala biaya perobatan.
Pada saat itu juga, ketika jenazah nenekku hendak disemayamkan di rumah paman, aku menghubungi Nova dengan maksud hendak memberitahukan kabar duka cita yang sedang kualami. Tapi entah kenapa, HP nya tidak aktif. Aku coba melalui SMS, namun tetap juga tidak ada laporan terkirim.
Bahkan sampai nenekku selesai dimakamkan di bona pasogitnya (kampung asalnya), aku masih tetap berusaha menghubungi Nova, namun lagi-lagi tidak membuahkan hasil. Aku amat sangat kecewa saat itu, sekujur tubuhku gemetaran. Pikiranku bercabang. Dimana Nova saat ini, mengapa HP nya tidak aktif, apa yang terjadi dengannya?. Begitulah pertanyaan yang datang silih berganti dan menari-nari dalam pikiranku. Kondisi itu terus berlangsung hingga pagi hari.
Besoknya aku berusaha meneleponnya kembali, namun yang kudapat hanyalah air mata kekecewaan. Selama satu minggu penuh, kukorbankan waktuku untuk mencari informasi dari teman-teman terdekatnya. Namun tak satupun yang mengatahui keberadaan Nova. Nova bagaikan hilang ditelan bumi.
Sehari, seminggu, sebulan dan bahkan sampai setengah tahun aku masih berusaha mencari keberadaannya. Selama setengah tahun itu pula aku hidup dalam ketidakpastian. Akhirnya aku menyerah. Mungkin Nova telah menikah dengan lelaki lain atau barang kali dia hilang dilautan luas saat melakukan perjalanan dengan menggunakan kapal laut dan kapalnya tenggelam atau barangkali akibat kecelakaan di jalan raya. Ya, aku menganggap bahwa Nova telah tiada.
Seandainya waktu dapat berputar kembali, seandainya bumi masih tetap bersahabat denganku dan seandainya rembulan masih mampu memberikan cahaya terangnya untukku, mungkin saja Nova masih di sampingku. Malam bertabur bintang pernah menjadi saksi kehangatan hubungan kami. Ah ….. aku merindukan Nova. Andai saja Nova tahu bahwa hingga saat ini aku masih tetap setia menunggunya hingga senja berganti malam dan malam berganti pagi. Seribu senja berganti, tapi aku masih duduk termenung ditemani semilir angin yang membuat seluruh tubuhku serasa membeku.
Ya Tuhan, jika memang ini sudah merupakan suratan tanganku dan jika memang ini yang terbaik menurut-Mu, maka aku hanya bisa pasrah dan menerima semuanya sebagai garis kehidupan yang harus kulalui.
Medan, Pebruari 2005